Pemberontakan Kaum Israil

Bangsa Israil sudah dibebaskan dari negeri Mesir. Allah sudah memimpin mereka dan memberi mereka makanan dan minuman selama mereka menempuh perjalanan di padang pasir. Allah juga sudah memberitahu perintah-perintah-Nya kepada mereka – bagaimana membangun Baitullah, bagaimana mempersembahkan kurban bagi-Nya, dan bagaimana hidup sesuai dengan syariat-syariat-Nya.

Akhirnya mereka siap untuk masuk ke Tanah Kanaan yang sudah dijanjikan kepada Nabi Ibrahim dan keturunannya. Allah berkata kepada Nabi Musa, “Pilihlah seorang pemimpin dari setiap suku Israil untuk memata-matai Tanah Kanaan yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Nabi Musa menyuruh keduabelas mata-mata itu berangkat. Katanya, “Selidikilah bagaimana negeri itu, apakah penduduknya banyak atau sedikit, apakah mereka kuat atau lemah. Periksalah, apakah negeri itu baik atau tidak. Bawalah pulang sedikit buah-buahan yang tumbuh di sana.”

Maka pergilah mereka untuk menyelidiki negeri itu selama 40 hari lamanya. Lalu mata-mata itu kembali dan memberi laporan kepada Nabi Musa, Nabi Harun dan seluruh kaum Israil. Kata mereka, “Negeri itu baik sekali. Tanahnya kaya dan subur; ini sedikit buah-buahan dari sana.” Mereka menunjukkan seranting buah anggur yang begitu berat sehingga harus dipikul dengan sebatang kayu oleh dua orang.

Mata-mata terus memberi laporan, “Tetapi penduduk negeri itu kuat-kuat. Kota- kota mereka besar-besar dan berbenteng. Lagipula, kami melihat raksasa.” Orang Israil mulai gemetar karena ketakutan.

Kemudian dua dari keduabelas mata-mata itu, Kaleb dan Yosua, menenangkan hati bangsa Israil dan berkata, “Negeri itu harus kita serang. Kita cukup kuat untuk mengalahkannya. Allah sudah berjanji akan memberikan Tanah Kanaan kepada kita. Dia akan menolong kita.”

Tetapi umat Israil berteriak-teriak dan menangis. Mereka mengomel, “Lebih baik kita mati di Mesir! Untuk apa Allah membawa kita ke negeri itu? Nanti kita akan mati dalam peperangan. Istri dan anak-anak kita juga akan mati. Lebih baik kita kembali ke Mesir!”

Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun, Kaleb dan Yosua, mencoba menguatkan iman bangsa Israil supaya mereka masuk Tanah Kanaan, orang-orang Israil mengancam hendak melempari mereka sampai mati.

Tiba-tiba cahaya Allah muncul di atas bait-Nya, lalu Allah berkata, “Berapa lama lagi orang-orang ini melawan Aku? Aku berjanji bahwa dari orang-orang ini tak seorang pun akan masuk ke negeri yang telah Kujanjikan kepada nenek moyang mereka sebab mereka tidak mau taat kepada-Ku.”

Allah berkata bahwa umat Israil akan mengembara di padang gurun selama 40 tahun sampai semua orang yang berumur 20 tahun ke atas, yang tidak percaya kepada janji Allah meninggal. Hanya Kaleb dan Yosua sajalah yang akan diperbolehkan masuk ke Tanah Kanaan.

Jadi orang-orang Israil, keturunan Nabi Ibrahim, tinggal di padang gurun selama 40 tahun. Mereka terus mengomel dan kufur kepada Allah. Allah sabar menunggu sampai ada generasi yang baru, yang akan beriman kepada-Nya. Setelah 40 tahun, anak-anak orang Israil, keturunan Nabi Ibrahim juga, sudah menjadi dewasa. Mereka percaya kepada kuasa dan janji Allah. Mereka akan masuk Tanah Kanaan yang sudah dijanjikan kepada nenek moyang mereka.

Cerita dari Kitab Suci Taurat, Kitab Bilangan bab 13-14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.